http://www.ziddu.com/download.php?uid=Z62gmpiubqyZlOKnZqqhkZSrY6uclZSq6
Atau silahkan klik DOWNLOAD
PERHATIAN! SETELAH ANDA KLIK DOWNLOAD MASUKKAN NOMOR PESERTA ANDA PADA KOLOM "NOMOR PESERTA". NANTI SECARA OTOMATIS AKAN MUNCUL NILAI ANDA BESERTA KETERANGAN LULUS atau TIDAK LULUS.
Jumat, 13 Juni 2008
Hasil UN-US 2008 SMAN 3 Pati
Berikut ini link yang dapat didownload untuk melihat HASIL SEMENTARA
UN & US Tahun 2008. Namun sebelumnya perlu diingat, bahwasanya
pengumuman ini bersifat SEMENTARA dan perlu dikonfirmasi di SMAN 3
Pati. Mohon untuk bisa dimaklumi!!!
Link pada URL berikut:
HASIL UJIAN KELULUSAN SMAGAPATI
Sekalipun berat, meskipun melelahkan, walaupun menyakitkan UJIAN merupakan fase yang harus dilalui. Tidak pandang siapa mereka. Angsa nan cantik berhasil terbang dengan anggun setelah ia LULUS UJIAN memecahkan cangkang telurnya. Katak mampu hidup setelah ia LULUS UJIAN bermetamorfosa dari cebong yang lemah menjadi katak besar yang melompat ke darat sejauh 1,5 m sekali lompat. Kupu-kupu yang kita kagumi warnanya juga berasal dari ulat jelek yang LULUS UJIAN dalam kepompompong selama berhari-hari.
Bagaimana dengan kita?
Sebagai pelajar, kita sama dengan mereka. Untuk bisa menjadi manusia yang berkualitas kitapun harus melalui UJIAN. Salah satu ujian kecil yang wajib kita jalani adalah UJIAN NASIONAL.
Layaknya angsa, katak dan kupu-kupu kitapun harus menjalani UJIAN dengan sungguh-sungguh. Kalau ada kecurangan atau tindakan tidak sportif dalam UJIAN itu berarti TIDAK LULUS. Seandainya angsa yang sedang menetas, kita bantu pecahkan sedikit cangkang telurnya maka angsa dengan sangat leluasa keluar dari telur. Akan tetapi angsa itu akan lahir sebagai angsa yang cacat, tidak bisa berjalan dan tidak mungkin mampu terbang!
Seandainya kepompong yang kita amati tidak jua keluar kupu-kupu, jangan sekali-kali kita bantu merobeknya. Sebab ketika kita sayat kepompong, kupu-kupu akan dengan sangat mudah keluar. Akan tetapi, sayap kupu-kupu ternyata tidak mau mengembang dan ia akah selamanya merangkak siap menjadi mangsa semut dan predator lain. Mengapa sayap kupu-kupu tersebut tetap menguncup? Karena, pada saat kupu-kupu mengejan, berusaha merobek belenggu kepompongnya ternyata itu adalah cara Tuhan memompakan darah dan cairan tubuhnya ke sayap kupu-kupu itu agar merekah. Sehingga ia akan keluar sebagai kupu-kupu yang sempurna, terbang membelah angin dan menghisap sari madu sebagai makanannya.
Oleh karena itu, meskipun dalam ijasah atau rapor kita LULUS tetapi nilai yang diperoleh dengan cara hina, maka kita tinggal menunggu saja kehancuran kita.
Sebaliknya, pada setiap kita yang menjalani UJIAN dengan jujur, sungguh-sungguh dan percaya diri apapun hasilnya itu adalah HASIL UJIAN KELULUSAN yang sebenarnya. Walaupun dalam ijasah dan rapor tertulis TIDAK LULUS sedangkan kita sudah mengerjakan dengan sportif bukan berarti kiamat atau akhir dari segalanya. Justru pada mereka yang ikhlas menerima dan mengakui ke-'TIDAK LULUS'-an penulis memberi penghargaan yang setinggi-tingginya.
Kita semua sudah tahu bahwa UJIAN NASIONAL bukan akhir dari perjalan pendidikan kita. Masih banyak kesempatan untuk meraihnya lagi.
Dan kita semua juga pasti sudah tahu bahwa setelah LULUS dari SMA diluar sana berjuta UJIAN lain menunggu kita untuk dilalui. Masuk kuliah pakai UJIAN. Masuk kerja pakai UJIAN bahkan menikahpun pakai UJIAN.
Mari jadilah kupu-kupu yang mampu terbang dan menghisap sari kembang madu.
Kamis, 22 Mei 2008
UN nan Fenomenal Bikin Nyeri Ati
Meski ini terlambat nulisnya, tapi masih mending daripada tidak sama sekali. Ulasan mengenai Ujian Nasional untuk kelas XII SMA pada tanggal 22 - 25 April 2008 lalu, sudah sebulan lewat, tapi masih berbekas. Sedih, marah, kecewa, entah.. sulit untuk mengungkapkan. Berat memang sepertinya, namun semestinya bukan malah menjadi menurun semangatnya, mestinya ini dipakai sebagai cambuk bagi para siswa, minimal sebagai tolok ukur mereka belajar selama beberapa tahun.
Beberapa kejadian unik pun terjadi dan terlewat begitu saja, seolah tidak pernah terjadi. Jika sepintas terdengar, pelaksanaan UN berhasil dan memang berhasil dengan sangat baik. Tapi apakah benar seperti itu? Dari tolok ukur apa dikatakan berhasil?
Ternyata, pandangan tentang keberhasilan sebuah pendidikan masih begitu rancu, sangat bias.
Jika dilihat dari pelaksanaan UN beberapa waktu lalu, bisakah dijadikan patokan bahwa pemerintah berhasil mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan "membentuk manusia Indonesia seutuhnya, berakhlak mulia, dsb.. yang pada intinya manusia yang menguasai IPTEK (ilmu pengetahuan) dengan berlandaskan IMTAK (iman dan takwa). Penguasaan iptek sebagai usaha untuk kreatifitas yang pada akhirnya menjadi negara yang mandiri. Tetap kukuh dengan imtak sebagai arah langkah negara dalam bernegara maupun dalam komunitas negara." Sudah terwujudkah? suatu pertanyaan bagi Anda generasi penerus bangsa!!!
Dalam pelaksanaan UN 2008, sedikit banyak pasti menjadi beban bagi para peserta ujian dengan standar nilai yang ditetapkan. Begitu juga halnya untuk pengawas ujian, setidaknya mereka menjadi lebih terkekang pada saat pelaksanaan UN. Bagi para peserta ujiana, nilai yang menjadi beban memotivasi mereka untuk belajar lebih giat. Namun sangat disayangkan dan ironis jika mereka malah lebih giat belajar untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Suka maupun tidak dengan ulasan ini, yang pasti hal semacam ini banyak terjadi. Bagi sebagian peserta ujian telah begitu "cerdiknya" memanfaatkan peluang untuk melakukan kecurangan selama mengerjakan soal ujian. Sementara, di saat yang sama, pengawas ujian terikat dengan tata tertib pengawas UN yang dilarang untuk melakukan "tindakan" (yang dulu diperbolehkan) bagi peserta yang berbuat curang. Satu contoh kejadian pada saat pelaksanaan UN di "salah satu SMA negeri di kota ini", yang cukup dapat jadi renungan bagi kita. Kepala sekolah langsung menegur para pengawas UN dalam forum karena dianggap terlalu keras dalam melakukan pengawasan pada peserta UN, setelah sebelumnya pengawas ini menurut siswa peserta UN begitu keras mengawasi dengan melakukan tindakan "menatap tajam peserta" (dan masih hanya menatap)", "mondar-mondir di depan ruang ujian" (meski hanya untuk melepaskan kepenatan selama duduk mengawasi), atau "melepas jam tangan seluruh peserta" (ni sih kelewatan :o, karena dianggap bisa digunakan untuk melakukan kecurangan, toh kalo hanya ingin lihat waktu ujian dapat dilihat di jam dinding di bagian ruangan kelas dan dapat dilihat oleh semua peserta)", dan beberapa bentuk pengawasan lain. Kasihan banget ni pengawas, sudah beban mental yang begitu berat ditambah letih mengawasi masih ditegur juga karena melakukan tindakan yang dirasa wajar semacam itu. Mending gak usah diawasi saja selama ujian biar tidak ada yang merasa dilecehkan dan bisa lulus 100% :D.
Namun permasalahannya bukan senang atau tidak senang. Justru permasalahan akan semakin besar nantinya bagi para peserta ujian tersebut. Jika mereka sedari awal tidak menyadari betapa pentingnya sebuah kejujuran dalam ujian bagi mereka sebagai tolok ukur bagi dirinya sendiri selama sekolah, maka jangan salahkan mereka jika pada kemudian hari negara ini dipenuhi oleh para generasi yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginanya.
Langganan:
Postingan (Atom)